Hiu Paus Tercemar Sampah Plastik, Ini Kata Peneliti LIPI

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria mengamati bangkai paus yang terdampar dengan plastik di dalam perutnya di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin, 19 November 2018.  Isi perut bangkai paus sperma (Physeter macrocephalus) yang ditemukan terdampar di Pulau Kapota ini berisi sampah plastik. REUTERS/KARTIKA SUMOLANG

    Seorang pria mengamati bangkai paus yang terdampar dengan plastik di dalam perutnya di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin, 19 November 2018. Isi perut bangkai paus sperma (Physeter macrocephalus) yang ditemukan terdampar di Pulau Kapota ini berisi sampah plastik. REUTERS/KARTIKA SUMOLANG

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI menanggapi hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Aquatic Megafauna Research Unit Elitza Germanov tentang ikan pari manta dan hiu paus Indonesia yang tercemar sampah plastik.

    Peneliti Pencemaran Laut dan Mikroplastik di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Muhammad Reza Cordova menjelaskan bahwa penelitian tersebut dilakukan di daerah yang memiliki sampah plastik cukup tinggi.

    "Elitze Germanov salah satu kolega kami juga. Itu perhitungannya ya. Mengingat habitatnya berdasarkan hasil penelitian Elitze plastik cukup tinggi di area tersebut," ujar Reza kepada Tempo, Kamis, 21 November 2019.

    Dalam penelitiannya, Germanov mengungkapkan bahwa selama musim hujan di Indonesia ikan pari manta dan hiu paus telah menelan sebanyak 63 lembar plastik per jam. Temuannya diterbitkan dalam Frontiers in Marine Science.

    Antara Januari 2016 dan Februari 2018, tim mengambil sampel dari perairan di sekitar satu garis pantai di selatan-tengah Indonesia di mana ikan pari dan hiu paus makan. Para peneliti menyeret jaring halus melalui perairan ini, mensimulasikan bagaimana hewan itu perlahan berenang dengan mulut terbuka untuk menangkap plankton.

    "Hal tersebut sangat disayangkan, apalagi indikasi plastik tersebut berasal dari sampah merek lokal. Kita harus segera berlari untuk pengelolaan sampah yang jauh lebih baik," kata Reza.

    Berdasarkan jumlah puing-puing plastik yang tertangkap di jaring-jaring ini, peneliti menghitung jumlah plastik yang akan dikonsumsi oleh keduanya menggunakan volume rata-rata air yang mereka lewati melalui mulut terbuka saat makan. Untuk memeriksa temuan mereka, tim juga bekerja dengan penyelam SCUBA setempat untuk mencari sampel muntahan dan feses hewan laut itu, kemudian dikumpulkan di tabung kotoran.

    Indonesia merupakan penyumbang plastik laut terbesar kedua di dunia dan sekelompok peneliti memutuskan untuk mempelajari efek dari semua plastik laut terhadap dua penghuni lautan Indonesia yang paling terkenal: pari manta dan hiu paus.

    Manusia menghasilkan 254 triliun ton sampah setiap tahun, yang sebagian besar berakhir di lautan. Setiap tahun, sekitar 5,25 triliun keping plastik baru dibuang ke laut, termasuk hampir 564 miliar botol air dan lebih dari 500 miliar kantong plastik. "Jangan sampai korban sampah plastik ini semakin banyak," tutur Reza.

    Ada rata-rata 26 potong sampah plastik dalam kotoran pari manta dan 66 potong dalam sampel muntah yang bisa didapatkan para peneliti. "Sebagai spesies yang terancam, baik pari manta maupun hiu paus tidak mampu menurunkan tingkat reproduksi,” kata Germanov yang juga lulusan Murdoch University itu, dikutip Daily Mail.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.