Lapan: Kemampuan Roket Indonesia Masih di Era 1960-an

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tim dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memeriksa roket yang dilombakan sebelum diluncurkan di pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta,  (30/11). Lomba roket ini diikuti 18 universitas swasta dan negeri di Indonesia. ANTARA

    Sejumlah tim dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memeriksa roket yang dilombakan sebelum diluncurkan di pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta, (30/11). Lomba roket ini diikuti 18 universitas swasta dan negeri di Indonesia. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Roket-roket bikinan Indonesia masih mengembangkan teknologi yang berasal dari era 1960-an. Kemajuan teknologi di bidang roket sangat lambat dan Indonesia sangat membutuhkan transfer teknologi dari negara lain.

    Kepala Pusat Teknologi Roket di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Sutrisno, mengakui itu di hadapan Menteri Ristek Bambang Brodjonegoro dan jajaran petinggi Lapan pada Jumat 21 Februari 2020. Pada hari itu, Menristek melihat langsung perkembangan teknologi roket Indonesia sebelum meresmikan Laboratorium Anechoic Chamber, Fasilitas Pusat Teknologi Satelit.

    "Ini teknologi dari 1960-an yang masih terus kami kembangkan," kata Sutrisno. Dalam penjelasannya, Sutrisno merujuk kepada roket Kappa yang pernah didapat Indonesia di era Presiden Sukarno dari Jepang. Roket Kappa sendiri dikembangkan Jepang sejak 1956.

    Menurut Sutrisno, pengembangan sebuah teknologi mensyaratkan kerja sama dan transfer teknologi. Itu sebabnya dia antusias dengan keberhasilan pemerintah Indonesia 'memaksa' pemerintah Cina menekan kesepakatan kerja sama selama lima tahun ke depan untuk pengembangan teknologi roket. 

    Hingga saat ini, Sutrisno menjelaskan, Lapan masih fokus pada pengembangan roket diameter 450 milimeter setelah yang 550 milimeter gagal di uji terbang. Roket Rx-450 memiliki daya jangkau 70 kilometer, kalah jauh dari roket sejenis, dua tingkat, bikinan Cina yang bisa sampai 200 kilometer.

    Kepala Pusat Teknologi Roket, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Sutrisno, bersama replika Roket RX-450 di kantornya di Rumpin, Bogor, Jumat 21 Februari 2020.

    Teknologi roket dua tingkat diameter 450 mm itu yang dibidik Lapan untuk bisa dikembangkan. “Untuk meng-improve roket 450 kita...dan akan ada pengalaman dan hal baru, serta memantapkan apa yang sudah kita lakukan selama ini,” kata Sutrisno.

    Roket berdaya jangkau 200 kilometer disebutnya bisa digunakan sebagai roket sonda untuk mempelajari karakter di lapisan atmosfer. Harapannya, kemampuan nanti bisa dikembangkan untuk roket sonda 300 kilometer dan seterusnya hingga bisa membuat roket peluncur satelit sesuai roadmap teknologi roket yang sudah dibuat tiga tahun lalu untuk 25 tahun ke depan.

     

    KOREKSI:

    Artikel ini telah diubah pada Jumat 28 Februari 2020, Pukul 18.30 WIB, untuk meluruskan beberapa informasi di dalamnya. Terima kasih.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.