Hadapi Kekeringan, Pelajar SMA Ubah Air Laut Jadi Tawar

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Remaja asal Lembata, Nusa Tenggara Timur, Maria Rosalinda Bunga Lengari dengan alat desalinasi air laut menjadi air tawar sederhana buatan dia dan teman-temannya. Alat dihasilkan sebagai reaksi atas dampak perubahan iklim yang dialami di lingkungan tempat tinggalnya. FOTO/ PLAN INDONESIA

    Remaja asal Lembata, Nusa Tenggara Timur, Maria Rosalinda Bunga Lengari dengan alat desalinasi air laut menjadi air tawar sederhana buatan dia dan teman-temannya. Alat dihasilkan sebagai reaksi atas dampak perubahan iklim yang dialami di lingkungan tempat tinggalnya. FOTO/ PLAN INDONESIA

    TEMPO.CO, Jakarta - Maria Rosalinda Bunga Lengari, 16 tahun, asal Lembata, Nusa Tenggara Timur, membuat sebuah alat sederhana pemanen air tawar dari air laut. Pelajar tingkat SMA yang biasa disapa Osin itu membuatnya untuk menghadapi masalah kekeringan dampak perubahan iklim yang terjadi di wilayah tempat tinggalnya.

    Osin, siswi kelas X SMA Negeri 1 Lebatukan, menceritakan bagaimana awal dirinya mempunyai ide tersebut dalam acara diskusi Pojok Iklim bertajuk ‘Kiprah Cerdas Milenial dan Generasi Z: Bagian Solusi Perubahan Iklim’. “Awalnya saya mendapatkan sosialisasi dari Plan Indonesia mengenai sosialisasi dan dampak dari perubahan iklim,” ujar dia di Ruang Rimbawan 3B, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat, Rabu 11 Maret 2020.

    Yayasan Plan Indonesia merupakan organisasi pembangunan dan kemanusiaan independen. Lembaga yang berkarya di 71 negara itu menyelenggarakan kegiatan Kemah Adaptasi Perubahan Iklim, yang menuntut pesertanya berinovasi untuk menyelesaikan masalah yang ada.

    Melalui kegiatan tersebut, Osin dan teman-teman di sekolahnya mulai memahami bahwa kekeringan yang terjadi adalah dampak perubahan iklim. “Kami dituntut untuk membuat suatu inovasi, dan didampingi guru akhirnya kami menemukan teori yang dikemas dengan hal yang sangat sederhana yaitu desalinasi air laut,” katanya menuturkan.

    Anak ketiga dari empat bersaudara itu menerangkan, alat yang dia buat bentuknya seperti rumah-rumahan. Rangkanya dari kayu, alas memakai tripleks, wadah penampungan air laut menggunakan aluminium, alat ini dipasangi paralon yang dihubungkan dengan selang untuk mengalirkan air tawar.

    “Awalnya kami berdiskusi dan berpikir bahwa kami mempunyai sumber daya air laut dan panas matahari. Proses terjadinya air hujan kan pasti penguapannya dari air laut, dari situ kami buat alat yang sederhana ini,” kata dia.

    Meskipun hasil air tawarnya belum bisa dikonsumsi karena kandungan yang belum diteliti lebih lanjut, Osin menggunakan air tawar itu untuk air minum ternak dan menyiram tanaman. Dia berharap, alat yang dibuat bersama teman-temannya itu bisa dikembangkan sehingga bisa menghasilkan air yang lebih banyak dan layak untuk dikonsumsi.

    Osin mengisahkan, anak-anak di wilayah tempat tinggalnya sudah terbiasa mengantre berjam-jam untuk mengambil air di sumur sedalam 22 meter. Ketika mengalami kekeringan yang bisa terjadi selama 8-9 bulan, tak jarang juga Osin dan teman-teman tidak mandi, dan hanya mencuci muka untuk berangkat sekolah.

    Program Manager Plan Indonesia Wahyu Kuncoro mengatakan, Osin merupakan salah satu peserta dari Project Climate Change Child Centered Adaptation (4CA). "Di situlah kami bertemu dengan Osin, pertama kami melakukan studi awal sampai sejauh mana sih tingkat pemahaman masyarakat khususnya anak sekolah di Lembata mengenai perubahan iklim,” kata dia.

    Kemudian, Wahyu berujar, Plan Indonesia menggelar kompetisi untuk eksplor ide kreatif dan akhirnya tercetuslah desalinasi air laut. “ Idenya pure dari mereka, kami hanya memberikan informasi mengenai perubahan iklim, solusi yang ditawarkan ya mereka sendiri yang mengusulkan,” kata Wahyu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.