Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Virus Corona COVID-19 Lambat Mutasi

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang studi dua kelompok peneliti di Italia yang menunjukkan bahwa virus corona SARS-CoV-2 atau COVID-19 relatif lambat bermutasi. Mereka membandingkan urutan genom virus yang berasal dari sampel pasien di Italia dengan referensi yang didapat dari sampel virus yang pernah menginfeksi pasien di Wuhan, Cina. 

    Mereka menemukan harapan, setiap vaksin yang sedang dikembangkan saat ini, ketika sudah digunakan nanti, bisa efektif digunakan secara luas di seluruh populasi yang terpisah secara geografis selama periode waktu yang relatif lama.

    Berita terpopuler selanjutnya mengenai, Gunung Merapi kembali meletus. Pagi ini, Jumat 27 Maret 2020, pukul 10.56 WIB, erupsi terjadi dan terpantau dengan tinggi kolom abu dan debunya yang membubung hingga sekitar 5 ribu meter dari puncak.

    Lainnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran mengembangkan disinfektan yang diklaim lebih aman untuk kulit. Ini terkait dengan maraknya bilik-bilik disinfektan yang dibuat untuk mencegah penularan COVID-19.

    Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno sepanjang hari ini,

    1. Kabar Baik, Peneliti Temukan Virus Corona COVID-19 Lambat Mutasi

    Studi baru dari dua kelompok peneliti menunjukkan bahwa virus corona SARS-CoV-2 atau COVID-19 relatif lambat bermutasi. Artinya, setiap vaksin yang sedang dikembangkan semestinya, ketika sudah digunakan nanti, bisa efektif digunakan secara luas di seluruh populasi yang terpisah secara geografis selama periode waktu yang relatif lama.

    Penelitian dilakukan oleh dua tim independen yang bekerja terpisah di Italia. Mereka adalah ilmuwan di Institut Nasional untuk Penyakit Infeksi (IRCCS) Lazzaro Spallanzani di Roma dan Divisi Forensik dari Departemen Ilmu Biomedis dan Kesehatan Masyarakat (DSBSP) di Rumah Sakit Universitas Ancona. 

    Mereka menguji urutan gen (genome sequencing) dengan teknologi yang dikembangkan Thermo Fisher Scientific pada sampel virus corona yang diambil dari pasien Italia. Kemudian, mereka membandingkan sampel dengan referensi genom yang diurutkan dari sampel virus yang diambil dari wabah di Wuhan sekitar dua bulan sebelumnya.

    2. Gunung Merapi Meletus Lagi, Status Tetap Waspada

    Gunung Merapi kembali meletus. Pagi ini, Jumat 27 Maret 2020, pukul 10.56 WIB, erupsi terjadi dan terpantau dengan tinggi kolom abu dan debunya yang membubung hingga sekitar 5 ribu meter dari puncak.
     
    Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, 
    Agus Wibowo, menyebutkan erupsi tersebut tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 7 menit. "Selain itu, visual erupsi merapi tersebut juga terekam oleh kamera pemantau milik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang berada di Pasar Bubrah Gunung Merapi," kata Agus melalui keterangan tertulis, Jumat, 27 Marey 2020.
     
    Belum ada laporan dari masyarakat terkait dampak dari erupsi tersebut. BNPB meminta masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik dan selalu memantau informasi resmi dari pihak berwenang.
     
     
    3. Wabah COVID-19: LIPI, ITB, Unpad Bikin Disinfektan Ramah di Kulit

    Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan disinfektan berbasis ozon. Disinfektan ini diklaim lebih aman bila disemprot ke tubuh dalam sebuah bilik disinfektan.

    Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengungkapkannya dalam konferensi pers melalui video conference yang digelar oMenteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro, Kamis 26 Maret 2020. “Karena ini disemprotkan ke bagian tubuh, disinfektan berbasis ozon ini lebih aman pada kulit dan ramah lingkungan,” kata Laksana.

    Peneliti dari Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto, menambahkan, disinfektan berbasis ozon tidak menggunakan bahan kimia. Namun, menggunakan dan memproduksi apa yang disebutnya nano bubble water.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.