Hati-hati Banjir Rob Hari Ini, BMKG Jelaskan Sebabnya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banjir rob melanda Pelabuhan Kaliadem hingga permukiman warga Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis malam 4 Juni 2020. (ANTARA/Fauzi Lamboka)

    Banjir rob melanda Pelabuhan Kaliadem hingga permukiman warga Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis malam 4 Juni 2020. (ANTARA/Fauzi Lamboka)

    TEMPO.CO, Bandung - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi banjir rob di banyak wilayah pesisir di Indonesia. BMKG menjelaskan potensi itu dibawa oleh gelombang tinggi akibat angin timuran.

    Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara saat ini terukur umumnya dari arah timur laut-tenggara dengan kecepatan 5-20 knot atau sekitar 9 hingga 37 kilometer per jam. Adapun di wilayah selatan Indonesia angin dari timur–tenggara berkecepatan hingga 25 knot atau sekitar 46 kilometer per jam.

    Kecepatan angin tertinggi terpantau di beberapa pesisir seperti perairan selatan Pulau Jawa, Laut Jawa, perairan selatan Kalimantan, dan Laut Arafuru. “Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut,” kata prakirawan cuaca BMKG Fadhly Ilhami lewat keterangan tertulis, Kamis 4 Juni 2020.

    Pada periode 3-5 Juni 2020, gelombang 1,25 hingga 2,5 meter disebutnya berpeluang terjadi di sejumlah kawasan pantai. Fadhly memaparkannya antara lain di perairan utara Subang, barat Aceh, Bengkulu, Laut Sawu, Selat Sumba, perairan selatan Kupang, Selat Karimata bagian utara, perairan utara Kepulauan Bangka-Belitung, dan perairan utara Jawa.

    Selain itu juga Selat Makasar bagian selatan, perairan Kepulauan Sabalana, Selayar, Laut Flores, perairan selatan Kepulauan Banggai, Manui Kendari, Laut Maluku, perairan Bitung, perairan selatan Pulau Buru, Ambon, Seram, Laut Banda bagian timur, periaran barat Nias hingga kepulauan Mentawai.

    Adapun gelombang tingg, berkisar 2,5-4 meter, disebutnya berpeluang terjadi antara lain di perairan barat Lampung, Samudera Hindia barat Sumatera, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Pulau Jawa hingga Sumba, Selat Bali, Selat Lombok, Samudera Hindia selatan Bali hingga Nusa Tenggara Timur, dan Laut Jawa.

    “Sedang tinggi gelombang 4-6 meter berpeluang terjadi di wilayah Samudera Hindia selatan Jawa,” ujar Fadhly.

    Keselamatan perahu nelayan yang melaut, menurut Fadhly, berisiko tinggi pada kondisi kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Sedang kapal tongkang jika kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter.

    Kapal ferry  harus waspada jika angin kencang lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter. Adapun kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau kapal pesiar berbahaya jika kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang 4 meter lebih.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.