Ada La Nina, BMKG: Waspada Musim Hujan Lebih Awal dan Lebih Basah

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Kampung Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berjalan menembus banjir luapan Sungai Citarum, Jumat, 24 Januari 2020. BMKG menyatakan puncak musim hujan akan terjadi Februari nanti. TEMPO/Prima Mulia

    Warga Kampung Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berjalan menembus banjir luapan Sungai Citarum, Jumat, 24 Januari 2020. BMKG menyatakan puncak musim hujan akan terjadi Februari nanti. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, JakartaBadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika telah merilis prediksi kedatangan awal dan puncak musim hujan di wilayah Indonesia. BMKG menyatakan musim hujan akan secara bertahap dimulai dari wilayah Indonesia Barat akhir Oktober. Sebagian besar wilayah Indonesia lalu akan mengalami puncak musim hujan pada Januari dan Februari 2021.

    Bersama prediksi itu, BMKG juga mengimbau pemerintahan dan masyarakat untuk mewaspadai musim hujan datang lebih awal. Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan, menunjuk beberapa daerah yang mungkin mengalaminya adalah sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi, serta sebagian kecil Jawa, Kalimantan, NTB, dan NTT.

    Dia juga mengatakan perlunya peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim hujan lebih basah dari normalnya. Ini, disebutnya, di Sumatera, Jawa dan sebagian kecil Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua.

    "Selain itu perlu diwaspadai pula wilayah-wilayah yang akan mengalami awal musim hujan sedikit terlambat (10-20 hari), terutama di wilayah-wilayah sentra pangan seperti Jawa, Bali, NTB dan Sulawesi," katanya dalam rilis Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Senin 7 September 2020.

    Dalam rilis itu BMKG menerangkan adanya pengaruh fenomena La Nina di atas Samudera Pasifik dan Indian Ocean Dipole negatif dari Samudera Hindia terhadap musim hujan yang akan dijelang. Akibatnya, sebagian wilayah Indonesia atau 27,5 persen Zona Musim (ZOM) berpotensi mengalami musim hujan yang cenderung lebih basah daripada rata-rata klimatologisnya.

    Deputi Klimatologi BMKG, Herizal, menjelaskan, datangnya musim hujan umumnya berkaitan erat dengan peralihan Angin Timuran yang bertiup dari Benua Australia (Monsun Australia) menjadi Angin Baratan yang bertiup dari Benua Asia (Monsun Asia). Peralihan angin monsun itu diprediksi akan dimulai dari wilayah Sumatera pada Oktober 2020 dan akhirnya Monsun Asia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada Desember 2020 hingga Maret 2021.

    Dari total 342 ZOM di Indonesia, sebanyak 34,8 persen diprediksi akan mengawali musim hujan pada Oktober 2020, yaitu di sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Sebanyak 38,3 persen wilayah akan memasuki musim hujan pada November, meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

    Baca juga:
    Geolog Bicara Semburan Lumpur di Kranggan Bekasi, Endapan Pantai Purba?

    Sementara itu 16,4 persen di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, NTT dan Papua akan masuk awal musim hujan pada Desember.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.