Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Warga Korsel Meninggal Setelah Suntikan Vaksin Flu

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf medis menggunakan swab untuk mengambil sampel dari pengunjung di pusat tes 'drive-thru' virus corona COVID-19 di Pusat Medis Universitas Yeungnam di Daegu, Korea Selatan, 3 Maret 2020.  Proses tes ini hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Staf medis menggunakan swab untuk mengambil sampel dari pengunjung di pusat tes 'drive-thru' virus corona COVID-19 di Pusat Medis Universitas Yeungnam di Daegu, Korea Selatan, 3 Maret 2020. Proses tes ini hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang sedikitnya 13 warga Korea Selatan meninggal setelah menerima suntikan vaksin flu dalam beberapa hari terakhir, menurut laporan media resmi pemerintah dan media lokal.

    Berita terpopuler selanjutnya tentang tiga gempa tektonik secara beruntun mengguncang wilayah selatan Banten selewat tengah malam hingga Kamis pagi, 22 Oktober 2020. Gempa terbaru muncul pada pukul 06.50 WIB dengan magnitud0 4,4. Guncangannya terasa dari Bayah, Banten sampai Sukabumi dengan intensitas menguat.

    Selain itu, studi mengungkapkan kalau kadar antibodi dalam darah pasien Covid-19 ikut drop dengan cepat pada pekan-pekan setelah jumlah virus berkurang dalam tubuh dan gejala penyakit mereda. Hasil studi itu dimuat dalam mBio, jurnal umum Masyarakat Mikrobiologi Amerika, edisi 16 Oktober 2020, dan dikutip Scitech Daily.

    Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno:

    1. Warga Korea Selatan yang Meninggal Setelah Suntikan Vaksin Flu Meningkat

    Staf medis menggunakan swab untuk mengambil sampel dari pengunjung di pusat tes 'drive-thru' virus corona COVID-19 di Pusat Medis Universitas Yeungnam di Daegu, Korea Selatan, 3 Maret 2020. Proses tes ini hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Sedikitnya 13 warga Korea Selatan meninggal setelah menerima suntikan vaksin flu dalam beberapa hari terakhir, menurut laporan media resmi pemerintah dan media lokal.

    Keadaan itu meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan vaksin, bahkan walaupun pihak berwenang mengesampingkan kaitan antara keamanan vaksin dan kematian warga setelah disuntik vaksin.

    Otoritas kesehatan pada Rabu, 21 Oktober 2020, mengatakan tidak memiliki rencana untuk menangguhkan program penyuntikan vaksin flu secara gratis kepada sekitar 19 juta orang, setelah penyelidikan pendahuluan terhadap enam korban jiwa tidak menemukan hubungan langsung pada kematian korban dengan vaksin.

    Tidak ada zat beracun yang ditemukan dalam vaksin, dan sedikitnya lima dari enam orang meninggal yang diselidiki memiliki kondisi yang mendasari kematian mereka, kata para pejabat.

    Para pejabat telah melaporkan sembilan orang meninggal setelah mendapatkan vaksinasi flu, dan kantor berita Yonhap melaporkan empat orang lainnya meninggal pada Kamis.

    2. Kamis Pagi, Tiga Gempa Beruntun Guncang Selatan Banten Sampai Sukabumi

    Ilustrasi gempa. geo.tv

    Selewat tengah malam hingga Kamis pagi, 22 Oktober 2020, tiga gempa tektonik secara beruntun mengguncang wilayah selatan Banten. Gempa terbaru muncul pada pukul 06.50 WIB dengan magnitud0 4,4. Guncangannya terasa dari Bayah, Banten sampai Sukabumi dengan intensitas menguat.

    Menurut keterangan dari petugas Stasiun Geofisika BMKG Bandung, pusat sumber gempa berlokasi di koordinat 6.98 LS - 106.32 BT atau di laut Samudera Indonesia. Jaraknya sekitar 9 kilometer arah tenggara Bayah, Banten. Gempa dilaporkan tidak menghasilkan tsunami.

    Berkedalaman 10 kilometer, gempa yang tergolong dangkal itu getarannya terasa di Bayah hingga Pelabuhan Ratu, Sukabumi dengan skala intensitas III MMI. Guncangan gempa dirasakan orang di dalam rumah seakan ada truk yang melintas.

    Sementara di daerah Cikembar, Sukabumi, dilaporkan gempa terasa lebih kuat dengan skala intensitas IV MMI. Selain terasa di dalam rumah, sebagian orang di luar juga merasakan getaran gempa dan bisa membuat gerabah pecah, jendela atau pintu berderik serta dinding berbunyi.

    3. Studi Temukan Antibodi Drop Begitu Pasien Covid-19 Sembuh

    Pasien sembuh Covid-19 mendonorkan plasma darahnya di Unit Tranfusi Darah PMI Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu 29 Agustus 2020. Plasma darah itu , yang diharapkan berisi antibodi, nantinya akan diberikan kepada pasien yang masih sakit (plasma konvalesen). ANTARA FOTO/Umarul Faruq/hp.

    Ketika belum ada terapi efektif Covid-19 yang telah disetujui semua kalangan, beberapa rumah sakit telah merawat pasiennya yang bergejala berat dengan plasma konvalesen. Ini adalah praktik donor antibodi lewat plasma darah pasien yang sudah sembuh.

    Dicoba juga di Indonesia, belum ada bukti terapi ini efektif dalam sebuah uji yang acak. Namun beberapa studi retrospeksi memberi dugaan terapi ini bisa mengurangi tingkat keparahan penyakit infeksi virus corona 2019 itu dan memangkas periode rawat inap di rumah sakit.

    Masalahnya, satu hasil studi mengungkapkan kalau kadar antibodi dalam darah pasien Covid-19 ikut drop dengan cepat pada pekan-pekan setelah jumlah virus berkurang dalam tubuh dan gejala penyakit mereda. Hasil studi itu dimuat dalam mBio, jurnal umum Masyarakat Mikrobiologi Amerika, edisi 16 Oktober 2020, dan dikutip Scitech Daily.

    Tim peneliti dalam studi itu menuliskan, jika memang terapi plasma konvalesen bisa efektif, maka plasma darah harus 'dipanen' pada periode spesifik setelah si pasien sembuh. Catatan disertakan di sana bahwa pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh tidak bisa langsung mendonasikan darahnya, tapi harus menunggu sampai setidaknya 14 hari untuk memastikan tubuhnya sudah bersih dari virus itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Aman Mengajar Saat Covid-19

    Administrasi sekolah harus siap-siap protokol kesehatan Covid-19 untuk melindungi staf pengajar mereka. Berikut tipsnya.