BMKG: Puncak Musim Hujan Januari-Februari Masih Disertai La Nina

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau perkembangan cuaca di layar pemantau cuaca di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta, Rabu (31/10). TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau perkembangan cuaca di layar pemantau cuaca di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta, Rabu (31/10). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Bogor - Badan Meteorologi, Kli­matologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan kalau wilayah Indonesia saat ini sudah memasuki puncak musim hujan. Periode ini akan bertahan hingga Februari mendatang.

    Ronald C. Wattimena dari Stasiun Meteorologi BMKG di Citeko, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menerangkan adanya pengaruh pergerakan angin Monsun Asia di punca musim hujan ini. "Indonesia khususnya akan mengalami musim hujan akibat adanya massa uap air yang dibawa oleh angin ini. Karena itu kami memprediksi puncak musim hujan bakal terjadi pada Januari hingga Februari ini," katanya, Rabu 6 Januari 2021.

    Baca juga:
    Angin Monsun Asia Menguat, BMKG Beberkan Dampaknya

    Menurutnya, terjadinya puncak musim hujan pada Januari hingga Februari ini lantaran adanya pergerakan Monsun Asia, atau angin yang bergerak dari arah barat membawa massa udara yang lebih banyak. Monsun ini bertiup dalam kurun Oktober hingga April.

    "Angin ini bertiup saat matahari berada di belahan Bumi selatan yang menyebabkan benua Australia musim panas dan bertekanan rendah, sedangkan Benua Asia lebih dingin dan tekanan udaranya tinggi," katanya menuturkan.

    Ronald menyebutkan, potensi bencana hidrometeorologi bisa saja terjadi pada puncak musim hujan ini. Terlebih, masih terjadi fenomena cuaca La Nina yang dapat memicu meningkatnya curah hujan di sekitar wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Bogor.

    Berdasarkan hasil pantauan BMKG, anomali iklim La Nina masih terpantau berlangsung di samudera pasifik dengan intensitas level moderat, dan kemungkinan baru akan melemah pada Mei 2021. "Karena itu kami imbau masyarakat agar senantiasa waspada," kata Ronald.

    Baca juga:
    BMKG Sebut Gempa Bengkulu Selatan sampai V MMI, Warga: Kenceng Banget

    Sebelumnya, Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Indra Gustari juga telah menerangkan dominasi aliran massa udara dari Monsun Asia ini dan dampaknya kepada peningkatan curah hujan. Sedang peneliti klimatologi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Erma Yulihastin mengingatkan ada potensi banjir besar di Jakarta pada pertengahan hingga akhir bulan ini berdasarkan pergerakan seruak angin yang kuat dari Laut Cina Selatan.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.