Surat Terbuka 24 Ilmuwan Dunia Tolak Hasil Studi Covid-19 WHO dan Cina

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal muasal virus corona atau COVID-19 mengunjungi pameran tentang Cina memerangi Covid-19 di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 30 Januari 2021. Anggota WHO menyelidiki asal-usul Covid-19 dengan mengunjungi sebuah rumah sakit yang pertama menangani pasien Covid-19. REUTERS/Thomas Peter

    Anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal muasal virus corona atau COVID-19 mengunjungi pameran tentang Cina memerangi Covid-19 di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 30 Januari 2021. Anggota WHO menyelidiki asal-usul Covid-19 dengan mengunjungi sebuah rumah sakit yang pertama menangani pasien Covid-19. REUTERS/Thomas Peter

    TEMPO.CO, Jakarta - Ilmuwan dari beberapa negara menyerukan agar dilakukan penyelidikan baru asal mula Covid-19 yang lebih ketat, dengan atau tanpa keterlibatan Beijing. Mereka merespon hasil studi gabungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Cina yang dinilai tidak memberi jawaban kredibel tentang bagaimana pandemi dimulai. 

    Dalam surat terbuka, ada 24 ilmuwan dan peneliti dari Eropa, Amerika, Australia dan Asia (Jepang) yang menyebutkan bahwa studi itu tercemar politik. "Titik awal mereka adalah, mari kita berkompromi sebanyak yang diperlukan untuk mendapatkan kerja sama dari Cina," kata Jamie Metzl, peneliti senior di badan pemikir Dewan Atlantik, yang merancang surat itu, Kamis 8 April 2021.

    Baca juga:
    Masih Berpikir Covid-19 dari Laboratorium? Simak Hasil Studi Ini

    Studi bersama yang dilakukan WHO dan Cina—dirilis minggu lalu—menjelaskan rute penularan yang paling mungkin untuk SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, melibatkan kelelawar dan satwa liar lainnya di Cina dan Asia Tenggara. Namun, menurut para peneliti gabungan itu, rute telah mengesampingkan kemungkinan adanya kebocoran virus dari laboratorium. 

    Surat itu juga mengatakan kalau kesimpulan studi bersama didasarkan pada penelitian Cina yang tidak dipublikasikan. Sementara catatan kritis dan sampel biologis, "Tetap tidak dapat diakses." 

    Tuduhan yang tidak mengada-ada karena Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanon Ghebreyesus mengatakan pada pekan lalu bahwa Cina telah menyembunyikan data. Sementara, Liang Wannian, pakar Covid-19 senior Cina, membantah dan terkesan mengesampingkan penyelidikan bersama lebih lanjut di Cina. Liang Wannian justru mengatakan, fokus harus dialihkan ke negara lain.

    "Dunia mungkin harus kembali ke Rencana B dan melakukan penyelidikan dengan cara yang paling sistematis tanpa keterlibatan Cina," kata Metz.

    Pemerintahan Cina telah menolak tuduhan bahwa SARS-CoV-2 bocor dari laboratorium penelitian di Wuhan, kota di mana Covid-19 pertama kali diidentifikasi akhir 2019 lalu. Studi gabungan Cina-WHO juga mengatakan kebocoran laboratorium sangat tidak mungkin terjadi.

    Liang Wannian, kepala panel ahli tim tanggap Covid-19 di Komisi Kesehatan Nasional Cina, menghadiri konferensi pers studi bersama WHO-Cina tentang studi tentang asal-usul Covid-19, di sebuah hotel di Wuhan , Provinsi Hubei, Cina 9 Februari 2021. [REUTERS / Aly Song]

    “Tidak ada catatan bahwa laboratorium mana pun telah menyimpan virus terkait SARS-CoV-2,” kata Tedros sambil menambahkan harus ada lebih banyak penelitian diperlukan untuk mencapai kesimpulan yang lebih kuat mengenai spekulasi itu.

    Sebaliknya dengan Metzl. Dia justru mengatakan Cina yang harus mengungkapkan informasi yang mampu menyangkal hipotesis kebocoran dari laboratorium. Dia menambahkan, Cina memiliki basis data tentang virus yang tak dirahasiakan, dan ada catatan laboratorium dari pekerjaan yang sedang dilakukan.

    Baca juga:
    Ahli Virologi Lokal Mengklaim Covid-19 Sengaja Dibuat di Cina

    “Ada banyak ilmuwan yang benar-benar melakukan pekerjaan itu dan kami tidak memiliki akses ke salah satu dari sumber daya itu, atau salah satu dari orang-orang itu,” ujar Metzl tentang kerahasiaan oleh laboratorium di Cina.

    REUTERS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.