Berita Terkini Vaksin Merah Putih, Eijkman Perlu Setahun Lagi Menuju EUA

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penelitian di Lembaga Biologi Molekular Eijkman. Sumber: dokumen Lembaga Eijkman

    Ilustrasi penelitian di Lembaga Biologi Molekular Eijkman. Sumber: dokumen Lembaga Eijkman

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengembangan vaksin Covid-19 lokal atau yang disebut Vaksin Merah Putih masih berjalan saat pengembang vaksin di luar negeri sudah mulai menguji vaksin-vaksin booster. Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio, menjelaskan, yang diproduksinya saat ini sudah masuk dalam proses transisi dari laboratorium ke industri, PT Bio Farma.

    Menurut Amin, Eijkman sedang berupaya melakukan proses optimasi, dimana yield atau perolehan dari bibit vaksin itu menjadi sebanyak dan setinggi mungkin. Tujuannya, proses industri bisa berjalan lebih efisien.

    Amien menjelaskan, skala produksi yang besar akan membutuhkan biaya besar jika yield kecil. " (Optimasi) Itu sekarang sedang dilakukan. Nanti kalau sudah bagus baru dilanjutkan ke proses uji pra klinik dan uji klinik,” ujar dia saat dihubungi, Kamis 22 Juli 2021.

    LBM Eijkman merupakan salah satu dari tujuh lembaga yang mengembangkan vaksin Covid-19 di tanah air. Lembaga atau institusi lainnya adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

    LBM Eijkman juga disebut-sebut sebagai pengembang vaksin Merah Putih tercepat dibandingkan institusi lainnya. “Diharapkan pertengahan tahun depan kami mendapatkan emergency use of authorization,” kata Amien menambahkan. 

    Menurut Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu, proses pengembangan Vaksin Merah Putih di Eijkman masih butuh sekitar satu tahun lagi. Kendalanya, dia mengungkapkan, bersifat praktis saja, yakni tim tidak bisa ‘memerintah’ virus sesuai dengan keinginan. “Kami harus ikuti pola hidup mereka yang kadang melambat kadang cepat,” tutur Amin, peraih Ph.D Immunogenetics dari Jepang itu.

    Baca juga:
    Kepala Eijkman Bicara Potensi Covid-19 Varian Baru yang Lebih Berbahaya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.