Mendamba Jalan Tol Internet

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • internetTEMPO Interaktif, Jakarta - Ruas jalan Ciawi-Sukabumi terkenal sebagai jalur yang padat dan, tak jarang, macet, terutama di beberapa lokasi. Namun perjalanan serombongan wartawan dan tim dari Nokia Siemens Network (NSN) pada 17 November lalu seperti tak terpengaruh oleh kepadatan tersebut.

    Berkat "jasa" sepasang polisi bermotor besar, kemacetan dan kepadatan lalu lintas seperti tak ada artinya. Dampaknya adalah jantung pun ikut berpacu dengan kencang bila bapak polisi itu nekat membimbing rombongan melawan arus lalu lintas.

    "Kami memang ingin menyajikan koneksi yang cepat dan bisa menjangkau kawasan di mana pun, terutama di kawasan pedesaan seperti ini, tapi tidak dengan cara begini," ujar Harith Menon, Head Costumer Marketing and Communication NSN, berkelakar.

    Koneksi yang bebas hambatan adalah dambaan publik Internet. Demikian pula pemakai Internet di Indonesia yang sudah mencapai 30 juta orang per September lalu. Masalahnya adalah koneksi yang masih menyisakan ketidakpuasan di antara pengguna.

    "Coba kalau LTE (Long Term Evolution) atau WiMAX sudah berjalan, mungkin tidak akan selemot ini," ujar Ruby Supriadi, seorang guru di sekolah swasta di Jakarta Utara. Lelaki 27 tahun ini getol memakai Internet untuk mengumpulkan berbagai bahan ajar bagi murid-muridnya.

    Selaku evolusi dari teknologi 2G dan 3G, yang sedang dipakai saat ini, operator seluler jelas condong mengadopsi LTE. Teknologi ini mampu menyajikan data rate sampai 100 megabita per detik (Mbps) untuk downstream dan 10 Mbps untuk upstream dengan latensi rendah.

    LTE juga digadang-gadang bisa efisien memakai spektrum karena beroperasi pada standar IMT-2000, yaitu 450, 850, 1800, 1900, dan 2100 MHz. Ia pun bisa memakai spektrum baru, seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

    Masalahnya, payung hukum soal LTE memang masih belum jelas. "Regulasinya memang belum diatur secara khusus," kata Gatot S. Dewa Broto, juru bicara Departemen Komunikasi dan Informatika, mengakui.

    Tapi pemerintah, kata Gatot, tak mempersoalkan operator atau vendor jaringan yang ingin melakukan uji coba. Ia berharap, soal regulasi ini nantinya bisa dijabarkan secara detail dalam Rancangan Undang-Undang Konvergensi, yang masih digodok di lingkup internal Departemen Komunikasi dan Informatika.

    Salah satu uji coba yang bakal dilakukan di Indonesia adalah oleh Grup SingTel, yang memiliki sebagian saham di Telkomsel. Perusahaan ini memakai perangkat dari Ericsson dan Alcatel-Lucent. "Silakan trial, tapi tidak lebih dari itu," kata Gatot di Jakarta kemarin.

    Vendor lain juga terus bergerak. NSN, misalnya, telah melakukan pengujian handover dan interoperabilitas. Handover adalah pengujian mulus-tidaknya sebuah koneksi saat perpindahan panggilan dari satu mobile cell ke mobile cell lain, ketika pengguna melakukan komunikasi bergerak. Adapun tes interoperabilitas untuk menguji kecocokan perangkat radio LTE dengan elemen jaringan lain.

    NSN malah sudah sukses melakukan sebuah panggilan data dengan software standar di pusat risetnya di Ulm, Jerman, pada September lalu. NSN dan beberapa vendor, seperti AT&T, Orange, Telefonicam, TeliaSonera, Verizon, Alcatel-Lucent, Ericsson, Motorola, Samsung Electronics, dan Sony Ericsson, juga menggelar inisiatif bernama One Voice. Ini adalah solusi berbasis IP Multimedia Subsystem. Ia diharapkan menjaga kualitas layanan saat berpindah dari circuit switched ke LTE berbasis Internet Protocol. Dengan begitu, terbuka jalan konvergensi kabel pita lebar dengan LTE yang nirkabel.

    ZTE, salah satu vendor jaringan telekomunikasi dari Cina, malah sudah menciptakan jaringan dual mode antara LTE dan teknologi EV-DO Rev B pada jaringan CDMA. Teknologi ini sudah dipamerkan di Jepang pada Juli lalu dan siap dikomersialisasi.

    Markus Borchert, Head of Sales and Marketing Radio Access Nokia Siemens Network mengatakan bahwa migrasi ke teknologi telekomunikasi lanjutan memang mutlak dibutuhkan. Ibarat sebuah jalan, dunia telekomunikasi kini membutuhkan jalan tol yang sangat lebar.

    Borchert menyebutkan bahwa pada 2013 lalu lintas telekomunikasi mencapai peningkatan 1.683 persen dibanding pada 2008. "Karena itu, dibutuhkan kapasitas yang lebih, kecepatan yang lebih tinggi, dan latensi yang rendah," katanya pada awal pekan ini. LTE, kata dia, bisa menjawab kebutuhan itu.

    Sementara menunggu LTE, operator di Indonesia memang tak tinggal diam. Mereka terlebih dulu mengimplementasi teknologi di bawah LTE, yaitu High Speed Packet Access Plus alias HSPA+. Teknologi ini menawarkan kecepatan yang mendekati LTE.

    Telkomsel dan Indosat mulai menggelar layanan HSPA+ pada akhir tahun ini. Telkomsel, misalnya, dengan tambahan second carrier 5 MHz, membangun jaringan HSPA+ di sembilan kota sampai akhir tahun ini. Adapun Indosat baru benar-benar mulai menggelar layanannya pada akhir tahun ini.

    Excelcomindo sendiri baru mengembangkan teknologi tersebut di lingkup internalnya. "Tahun depan diharapkan bisa diimplementasikan," kata Febrianti Nadira, Manager PR PT Excelcomindo Pratama, di Jakarta kemarin.

    XL, kata Nadira, masih menantikan perkembangan pasar. Menurut dia, permintaan pasar belum ada dan perangkatnya masih terbilang mahal. "Begitu pasar siap, kami pun langsung meluncurkan," katanya.

    DEDDY SINAGA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?