Robot Pemanjat Dinding Selincah Siamang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • William Provancher. Foto: Mark Fehlberg, University of Utah.

    William Provancher. Foto: Mark Fehlberg, University of Utah.

    TEMPO Interaktif, Salt Lake City - Menyerupai seekor monyet yang berayun berpindah dari satu cabang ke cabang pohon lainnya, ROCR, robot kecil buatan University of Utah, mulai merayap memanjat dinding berkarpet setinggi 2,4 meter itu. Hanya dalam 15 detik, robot yang memiliki dua tangan mirip cakar, sebuah motor, dan ekor yang berayun seperti bandul grandfather clock itu menyelesaikan tugasnya.

    ROCR ("rocker") adalah robot pertama yang didesain untuk memanjat dengan efektif dan bergerak seperti atlet pemanjat tebing atau kera yang berayun dari satu pohon ke pohon lain.
    "Robot ini nantinya dapat digunakan untuk melakukan inspeksi, pemeliharaan, dan pengintaian," kata William Provancher, staf pengajar teknik mekanik di University of Utah, di Salt Lake City, Amerika Serikat. "Namun potensi jangka pendek robot ini adalah sebagai alat mengajar atau mainan yang amat canggih."

    Studi Provancher tentang pengembangan robot pemanjat osilasi ROCR telah dipublikasikan dalam Transactions on Mechatronics, jurnal Institute of Electrical and Electronics Engineers, dan American Society of Mechanical Engineers. Dalam laporannya, Provancher dan timnya menyatakan bahwa ROCR jauh lebih maju dibanding robot pemanjat lainnya.

    "Berbeda dengan robot pemanjat sebelumnya, yang lebih difokuskan pada kecepatan dan kemampuan menempel di dinding, serta memutuskan bagaimana dan ke mana harus bergerak, ROCR adalah robot pertama yang fokus untuk memanjat dengan efisien," kata Provancher.

    Salah satu robot pemanjat lain mampu memanjat dinding empat kali lipat lebih cepat dibanding ROCR, yang hanya 6,2 inci per detik, tapi tingkat efisiensi ROCR dalam tes memanjat lebih tinggi 20 persen. Efisiensi robot ini diperoleh dari rasio kerja yang diperagakan ketika memanjat dinding terhadap energi listrik yang dikonsumsi robot tersebut.

    Sebelum menguji kemampuan robotnya, Provancher dan timnya menggunakan peranti lunak komputer untuk mensimulasikan gerakan memanjat ROCR. Simulasi itu berguna untuk mengevaluasi strategi memanjat yang paling efisien dan memoles fitur fisik robot.

    Berdasarkan simulasi itu, mereka melakukan eksperimen untuk menentukan cara yang paling efisien agar robot dapat memanjat papan tripleks setinggi 2,4 meter yang dilapisi karpet. Mereka mencoba beragam variasi kecepatan dan berapa jauh ayunan ekor robot.
    Robot beroperasi paling cepat dan efisien ketika ayunannya mirip resonansi, frekuensi alami robot, atau mirip ayunan pendulum grandfather clock pada frekuensi alaminya. Ketika ekor berayun makin pelan, robot tetap memanjat tapi tidak cepat atau seefisien saat ekor berayun normal.

    Para ilmuwan menemukan bahwa ROCR mencapai efisiensi tertingginya, yaitu 20 persen, ketika ekor mengayun ke belakang dan ke depan 120 derajat, atau 60 derajat ke setiap sisi. Pada saat itu, ekor mengayun ke belakang dan ke depan 1,125 kali per detik dan ketika jarak antarcakar 12,4 sentimeter.

    Ketika ekor mengayun dua kali per detik, ayunan terlalu cepat dan ROCR justru terjungkal dari dinding. Namun tali pengaman mencegah robot jatuh dan rusak.

    | TJANDRA DEWI | UNEWS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.