Penelitian Ungkap Penyebab Mengantuk Saat Mengemudi Mobil

Reporter

Editor

Erwin Prima

Penelitian ungkap penyebab seseorang mengantuk saat mengemudi mobil. Kredit: RMIT University

TEMPO.CO, Melbourne - Sebuah penelitian mengungkap penyebab seseorang mengantuk saat mengemudi mobil.

Bukan kurang tidur, angin yang sepoi-sepoi, dan pendingin yang menyejukkan jawabannya, tapi penelitian yang dilakukan para peneliti dari RMIT University, Melbourne, Australia menemukan jawaban lain.

Baca: Penelitian Baru Ungkap Lubang Hitam Supermasif Melahap Bintang

Berdasarkan penelitian mereka, ternyata salah satu penyebab kantuk ketika mengemudi mobil ialah getaran alami dari mobil itu sendiri.

Dilansir Science Daily, 5 Juli 2018, penelitian dilakukan dengan menguji 15 relawan dalam simulator virtual. Simulator tersebut mereplikasi pengalaman mengemudi di jalan raya dua jalur yang monoton.

Simulator dibuat pada platform yang dapat digetarkan pada frekuensi yang berbeda, dengan relawan diuji dua kali; sekali dengan getaran pada frekuensi rendah (4-7Hz) dan sekali tanpa getaran.

"Studi kami menunjukkan getaran yang stabil pada frekuensi rendah --jenis yang kami alami ketika mengendarai mobil dan truk-- secara progresif menginduksi kantuk bahkan di antara orang-orang yang cukup istirahat dan sehat," ujar Stephen Robinson, salah satu peneliti.

Dengan melihat variabilitas denyut jantung (HRV) sukarelawan, para peneliti dapat memperoleh ukuran obyektif tentang bagaimana mengantuknya mereka saat tes berlangsung.

Dalam 15 menit setelah memulai tes bergetar, para relawan menunjukkan tanda-tanda kantuk. Dalam 30 menit, rasa kantuk itu signifikan, membutuhkan upaya yang besar untuk menjaga kewaspadaan dan kinerja kognitif. Sementara, rasa kantuk memuncak pada 60 menit setelah tes dimulai.

Meski begitu, mereka juga mengakui beberapa orang justru dapat terjaga ketika mendapatkan getaran pada frekuensi tertentu, seperti diberitakan situs Phys, 5 Juli 2018.

Simak artikel lainnya tentang penelitian di kanal Tekno Tempo.co.

SCIENCE DAILY | PHYS | MUHAMMAD ABI MULYA






Ibu Menyusui Butuh Dukungan Suami dan Keluarga, Menurut Penelitian

2 hari lalu

Ibu Menyusui Butuh Dukungan Suami dan Keluarga, Menurut Penelitian

Ibu menyusui yang tidak mendapatkan dukungan berpotensi gagal ASI dan ibu juga bisa mengalami konsekuensi stres.


Mikroplastik dari Masker di Muara Sungai Menuju Teluk Jakarta Meningkat Tajam

9 hari lalu

Mikroplastik dari Masker di Muara Sungai Menuju Teluk Jakarta Meningkat Tajam

Terdapat peningkatan mikroplastik bentuk benang yang terindikasi memiliki bentuk asal dan jenis komposisi kimia yang sama dengan masker medis.


Studi Baru Temukan Luas Hutan Global Menurun Lebih dari 60 Persen

11 hari lalu

Studi Baru Temukan Luas Hutan Global Menurun Lebih dari 60 Persen

Studi itu mengungkap bahwa selama 60 tahun terakhir kawasan hutan global telah menurun sebesar 81,7 juta hektare.


Ada 50 Mutasi Strain Baru Monkeypox pada 2022, Ini Perbedaannya

15 hari lalu

Ada 50 Mutasi Strain Baru Monkeypox pada 2022, Ini Perbedaannya

Mutasi monkeypox ini terlihat dari perbedaan karakteristik antara monkeypox di negara endemis dan nonendemis.


Peneliti: Covid-19 Tumbuh dan Menginfeksi Ikan Zebra serta Mencemari Air

16 hari lalu

Peneliti: Covid-19 Tumbuh dan Menginfeksi Ikan Zebra serta Mencemari Air

Ada tiga jalur untuk infeksi Covid-19 ke ikan zebra.


Studi Klaim Sensor Samsung Galaxy Watch4 Sangat Mirip dengan Alat Medis

16 hari lalu

Studi Klaim Sensor Samsung Galaxy Watch4 Sangat Mirip dengan Alat Medis

Para peneliti menemukan bahwa sensor Galaxy Watch4 sedikit lebih andal daripada instrumen medis standar yang dikenakan di pergelangan tangan.


Tes Darah Lebih Baik dalam Menemukan Kanker Payudara Dini daripada Mammogram

17 hari lalu

Tes Darah Lebih Baik dalam Menemukan Kanker Payudara Dini daripada Mammogram

Tes Trucheck dengan tepat mengidentifikasi 92 persen kanker payudara atau sekitar lima poin persentase lebih tinggi daripada mamografi.


Tips Efektif Tingkatkan H-index Peneliti

24 hari lalu

Tips Efektif Tingkatkan H-index Peneliti

Salah satu cara tingkatkan H-index peneliti dengan menjadi kolaborator penelitian.


Penelitian Ungkap Panda Raksasa Makan Bambu Sejak 7 Juta Tahun Lalu

36 hari lalu

Penelitian Ungkap Panda Raksasa Makan Bambu Sejak 7 Juta Tahun Lalu

Selain lima jari normal seperti tangan kebanyakan mamalia, panda raksasa memiliki tulang pergelangan tangan yang sangat besar.


Benarkah Puasa Intermiten Bantu Sembuhkan Kerusakan Saraf?

38 hari lalu

Benarkah Puasa Intermiten Bantu Sembuhkan Kerusakan Saraf?

Penelitian terbaru menemukan puasa intermiten bisa membantu menyembuhkan kerusakan saraf. Benarkah begitu?