Cara Mengangkat Batu Situs Stonehenge, Arkeolog: Pakai Lemak Babi

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Monumen Stonehenge di dataran Salisbury, Wiltshire, Inggris. REUTERS/Kieran Doherty

    Monumen Stonehenge di dataran Salisbury, Wiltshire, Inggris. REUTERS/Kieran Doherty

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak teori bagaimana peninggalan megalitik Stonehenge di Inggris dulu dibuat, terutama dengan alat apa batu besar seberat 25 ton itu diletakkan di atas batu-batu lain setinggi 4 meter. Stonehenge dibuat sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi.

    Baca juga: Beberapa Batu Stonehenge Sudah Ada Sebelum Peradaban Manusia

    Beberapa teori menyebutkan, bahwa batu dipasang di puncak batu tegak dengan menggelindingkannya di atas tumpukan kayu bulat sampai teori yang menyebut Stonehenge adalah buatan Alien.

    Sebuah penelitian baru yang dilakukan arkeolog Inggris menemukan bahwa kemungkinan batu-batu berukuran raksasa itu digeser menggunakan kereta luncur yang diminyaki lemak babi.

    Kesimpulan ini diambil setelah penelitian terhadap sejumlah mangkuk gerabah di sekitar situs, yang semula diduga hanya sebagai alat masak. Arkeolog Lisa-Marie Shillito menyimpulkan bahwa banyak wadah itu mungkin telah digunakan untuk mengumpulkan lemak yang menetes dari daging babi saat dipanggang.

    Minyak itu digunakan untuk melumasi kereta luncur yang diyakini sebagian besar arkeolog digunakan untuk memindahkan batu.
    "Sampai sekarang, telah ada asumsi umum bahwa jejak lemak hewani yang diserap oleh potongan-potongan tembikar ini terkait dengan memasak dan konsumsi makanan, dan ini mengarahkan interpretasi awal ke arah itu," kata Shillito dalam sebuah pernyataan.

    "Tapi mungkin ada hal-hal lain yang terjadi juga, dan residu ini bisa menjadi bukti dari teori kereta luncur yang dilumuri minyak."

    Fragmen gerabah itu berasal dari Durrington Walls, sebuah situs dekat Stonehenge tempat para pekerja tinggal saat membangun monumen. Sejak penggalian dimulai pada 1960-an, para arkeolog telah menemukan kombinasi artefak yang membingungkan di situs tersebut, termasuk fragmen tembikar dan sisa-sisa hewan.

    Para arkeolog dapat belajar banyak tentang pecahan-pecahan tembikar dengan menganalisis bentuk, ukuran, dan bahan dari mana mereka dibuat. Selama sekitar 30 tahun, para peneliti juga menggunakan teknik yang disebut analisis residu organik untuk menduga apa yang orang-orang kuno masukkan ke dalam wadah.

    Dengan melihat jejak senyawa yang tertinggal, termasuk isotop, atau versi berbeda dari unsur-unsur kimia, "kita dapat menentukan jenis makanan apa yang diproses dalam wadah ini," kata Julie Dunne, seorang arkeolog biomolekul di Universitas Bristol Inggris.

    Sebuah analisis pada 2018 menyebutkan bahwa sekitar sepertiga wadah gerabah yang ditemukan, digunakan untuk memasak daging babi. 

    "Kami menemukan jumlah lipid dalam pot yang sangat tinggi," kata Dunne, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. "Panci itu sendiri cukup besar, dan mereka memiliki sinyal lipid yang tinggi, yang berarti mereka mungkin digunakan untuk memproses banyak produk hewani."

    Hanya ada satu masalah dengan kesimpulan studi 2018 bahwa pot digunakan untuk memasak daging babi: tulang babi yang ditemukan di situs tersebut berasal dari hewan yang belum dimasak dalam wadah.

    Mayoritas tulang babi yang ditemukan di situs itu hangus bagian ujungnya, menunjukkan mereka terkena api terbuka, dan banyak kerangka ditemukan utuh, demikian hasil penelitian yang muncul di jurnal Antiquity, 15 Juli 2019.

    Bagaimanapun, seekor babi utuh tidak bisa masuk ke dalam wadah gerabah. Bukti itu dan bukti-bukti lain membuat Shillito berpendapat bahwa wadah itu bukan untuk memasak makanan tetapi untuk mengumpulkan dan menyimpan lemak babi yang digunakan dalam pembangunan Stonehenge.

    Pada 2018, Barney Harris, seorang mahasiswa doktoral arkeologi di University College London, memimpin simulasi teori kereta luncur yang dilumasi minyak. Dia dan relawannya menunjukkan bahwa 10 orang dapat memindahkan 1 ton (0,9 metrik ton) batu dengan kecepatan 1,6 km / jam.

    Temuan Shillito "sesuai dengan pengamatan yang tidak dipublikasikan yang dibuat selama percobaan pemindahan batu saya di London," kata Harris kepada Live Science.

    Baca juga: Menikmati Wisata Batu Misterius ala Stonehenge di Indonesia

    Teori kereta luncur yang diminyaki juga didukung oleh contoh-contoh pekerja dari peradaban lain yang secara mandiri mengembangkan metode serupa. Penggambaran dari Mesopotamia dan Mesir kuno menunjukkan para pekerja yang tampaknya menggunakan pelumas cair untuk memindahkan balok-balok batu besar, dan seorang arkeolog eksperimental yang bekerja di Pulau Paskah menggunakan pepaya tumbuk untuk membantu memindahkan batu-batu besar.

    Berita lain tentang Stonehenge dan penelitian arkeologi, bisa Anda simak di Tempo.co.

     LIVESCIENCE | PHYS.ORG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.