Bertahan di Luar Angkasa, Tardigrada Punya Kelemahan Mengejutkan

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tardigrada (Hypsibius dujardini). (Live Science)

    Tardigrada (Hypsibius dujardini). (Live Science)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tardigrada, hewan terkuat di Bumi, ternyata memiliki kelemahan dan cukup mengejutkan bagi spesies yang diketahui bertahan hidup dalam ruang hampa udara, sebagaimana dilaporkan Popular Mechanics akhir pekan ini.

    Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports sebagaimana dikutip Popular Mechanics akhir pekan ini, paparan panas yang berkepanjangan — berkisar dari 99 hingga 181 derajat Fahrenheit - menghasilkan angka kematian yang tinggi untuk Ramazzottius varieornatus, spesies tardigrada (yang ada lebih dari seribu).

    Untuk studi mereka, para peneliti menganalisis tardigrada aktif dan kering di rentang waktu berkisar antara satu dan 48 jam.

    Pengeringan adalah ketika tardigrada mengeluarkan air dari tubuh mereka, menyelipkan kaki mereka di bawah mereka, dan menggulung menjadi bola kecil yang disebut tun. Mereka dapat hidup dalam keadaan kering selama beberapa dekade dan tidak bertambah tua saat berada dalam kondisi itu. Pada dasarnya, pengeringan untuk tardigrada adalah seperti menekan tombol jeda — mereka ada tetapi tidak benar-benar hidup.

    Hasil penelitian menunjukkan sekitar 50 persen tingkat kematian pada tardigrada aktif yang hanya memiliki waktu satu jam untuk menyesuaikan diri hingga 99 derajat Fahrenheit. Menurut penelitian, "tardigrada aktif secara metabolik rentan terhadap suhu tinggi, namun aklimatisasi dapat memberikan peningkatan toleransi."

    Tardigrada dalam kondisi kering jauh lebih baik dengan tingkat kematian 50 persen hingga 181 derajat Fahrenheit selama 1 jam paparan, tetapi ambang batas panas turun menjadi 145 derajat Fahrenheit bila terpapar selama 24 jam.

    Menemukan kelemahan tardigrada itu tidak mudah karena hewan-hewan mikro ini telah hidup melalui lima kepunahan massal. Menurut sebuah studi tahun 2017, satu-satunya cara untuk membunuh mereka adalah dengan merebus semua air di lautan di Bumi.

    Para peneliti mencatat bahwa "bioprotectants" tertentu, seperti disakarida, bekerja untuk menstabilkan protein, asam, dan lipid dalam tardigrada bersama dengan protein pelindung panas yang menjaga makhluk hidup itu saat dalam bentuk tun dan juga bekerja untuk membawa mereka kembali dari pengeringan.

    Studi ini menunjukkan bahwa ketika tardigrada terpapar pada suhu tinggi, beberapa protein tersebut menjadi tidak stabil dan terdenaturasi, sehingga membahayakan organisme. Ini juga menunjukkan bahwa tardigrada mungkin tidak bertahan hidup dalam iklim yang terus-menerus menghangat karena makhluk-makhluk itu lebih sensitif terhadap fluktuasi suhu hangat daripada yang diyakini sebelumnya.

    Tim di balik penelitian ini berharap bahwa pekerjaan mereka akan mengarah pada penelitian tambahan dan "memberikan wawasan baru yang akan membantu memahami batas toleransi mereka secara lebih komprehensif."

    Mempelajari tardigrada juga dapat membantu kita lebih memahami proses penuaan. Hewan mikroskopis dapat menjalani cryptobiosis di mana metabolisme secara signifikan melambat menjadi 0,01 persen dari normal. Ini memungkinkan tardigrada untuk memasuki semacam stasis untuk waktu yang lama.

    Jika manusia memiliki kemampuan untuk memasuki cryptobiosis — atau membuat proses serupa secara artifisial — itu dapat merevolusi angka harapan hidup dan membantu mengembangkan strategi baru untuk misi luar angkasa.

    POPULAR MECHANICS | SCIENTIFIC REPORTS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.