Kemendikbud Tetapkan Kota Tua Semarang Cagar Budaya Nasional

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi mengunjungi kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Senin, 30 Desember 2019. Di Kota Lama Semarang, Jokowi juga mengunjungi galeri UMKM Semarang dan meninjau bangunan-bangunan tua di jalan Roda II.  Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

    Presiden Jokowi mengunjungi kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Senin, 30 Desember 2019. Di Kota Lama Semarang, Jokowi juga mengunjungi galeri UMKM Semarang dan meninjau bangunan-bangunan tua di jalan Roda II. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menetapkan kawasan Kota Tua Semarang sebagai Cagar Budaya Nasional. Penetapan disebutkan didahului keputusan tim ahli cagar budaya nasional setelah melakukan kajian selama tiga tahun.

    "Status yang ditetapkan harus dijaga baik-baik," kata Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, saat penyerahan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berisi penetapan tersebut, Rabu 19 Agustus 2020.

    SK tentang Kawasan Cagar Budaya Nasional Kota Semarang Lama sebagai Kawasan Cagar Budaya Tingkat Nasional itu diserahkan kepada Pemerintah Kota Semarang dan disiarkan dalam jaringan atau online.

    Setelah ditetapkan sebagai cagar budaya, Hilmar mengingatkan bahwa Pemerintah Kota Semarang memiliki tugas berat yakni bagaimana menjaga kelestarian kawasan itu. Dia berharap penetapan Kawasan Kota Lama Semarang itu dapat menjadi bagian yang akan mengangkat Jalur Rempah.

    Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengatakan perjuangan untuk menetapkan Kota Semarang Lama sebagai Cagar Budaya Nasional telah sejak 2017. Dia mengaku menyadari tantangan ke depan setelah penetapan didapat. Di antara tantangan itu adalah menghadapi rob dan kawasan yang menjadi kumuh serta bangunan-bangunan yang ditelantarkan pemilik.

    Kota Lama atau Kota Tua Semarang terdiri dari empat situs yang mewakili perjalanan sejarah Kota Semarang sejak abad ke-15 hingga awal 20. Keempatnya adalah adalah Kampung Kauman, Kampung Melayu, Kampung Pecinan, dan Oudestad. Luas kawasan seluruhnya 70,07 hektare. 

    Kampung Kauman merupakan permukiman Muslim di mana terdapat Masjid Kauman, merupakan pengganti Masjid Semarang yang telah terbakar. Sedang Kampung Melayu merupakan permukiman masyarakat Melayu yang berkembang sebelum keberadaan Benteng de Viifhoek, benteng VOC pertama yang dibangun pada akhir abad ke-17.

    Gereja blenduk lanskap Kota Tua Semarang. Foto: @agung_set

    Kampung Pecinan terbentuk sebelum Oudestad. Pemusatan permukiman orang-orang Cina dilakukan setelah terjadi Geger Pecinan pada 14 Juni sampai 13 November 1741 di Semarang. Tujuan pembentukan Kampung Pecinan sebagai upaya pembangunan sistem pertahanan dan perlindungan terhadap kepentingan VOC.

    Baca juga:
    Danau Toba Ditetapkan Sebagai UNESCO Global Geopark

    Oudestad merupakan Europeschebuurt atau tempat tinggal orang Eropa. Situs ini meliputi jaringan jalan raya, rel kereta api, pelabuhan termasuk menara pengawas, mercusuar, kantor syahbandar, anjungan penumpang atau peron, dan pabean. Pada Oudestad juga terdapat gedung pemerintahan, perkantoran dagang, keuangan, pabrik, bengkel, dan pergudangan berskala besar.

    Keempat situs menjadi cikal bakal perkembangan Kota Semarang akibat dari kedatangan para pedagang asing mulai dari orang Arab, Melayu, Cina, hingga Belanda. Persilangan budaya tampak jelas dalam bentuk tata kota, bangunan secara fisik, dan atraksi budaya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.