Riset Bibit Vaksin Merah Putih, Menristek Siap Kucurkan Sampai Rp 60 Miliar

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Rabu, 12 Agustus 2020. Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Rabu, 12 Agustus 2020. Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah siap mengalokasikan anggaran sebesar Rp 10 miliar untuk riset pengembangan vaksin Covid-19 lokal vaksin Merah Putih di setiap lembaga, kampus, ataupun institusi di dalam negeri. Nilai anggaran Rp 10 miliar itu belum sampai ke tahap uji klinis yang diperkirakan bisa menghabiskan Rp 30-40 miliar secara terpisah per kandidat vaksin yang diuji.

    "Semua anggaran itu sudah kami secure untuk tahun ini dan tahun depan," kata Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro dalam konferensi pers yang digelar daring mengenai pengembangan vaksin, terapi dan inovasi Covid-19, Selasa 20 Oktober 2020.

    Bambang mengatakan komitmen anggaran itu telah dibuktikan dengan mengucurkan Rp 10 miliar pertama untuk riset di laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Anggaran sebesar itu ditujukan hingga Eijkman menyelesaikan tahap ekstraksi dan mengujinya pada hewan, atau sebelum melangkah ke uji pada manusia.

    "Mungkin lebih besar nanti kalau sudah uji klinis. Per uji klinis bisa Rp 30-40 miliar...dikalikan jumlah vaksin yang diuji," kata Menristek Bambang menjelaskan.

    Secara keseluruhan, Bambang menerangkan, ada enam institusi yang dilibatkan untuk pengembangan Vaksin Merah Putih. Lima selain Eijkman adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

    "Untuk yang lain itu, kami akan cek kebutuhan anggarannya tapi kami perkirakan tidak berbeda jauh dengan Eijkman," kata mantan Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas/Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional itu.

    Bambang menyebutkan kalau keenamnya mengembangkan vaksin dengan platform dan metode masing-masing. Eijkman dan LIPI, misalnya, mengembangkannya berbasis protein rekombinan. Sementara yang lain ada yang menggunakan adenovirus atau material RNA virus Covid-19.

    Seluruhnya, Menristek memastikan, berbasis sampel SARS-CoV-2, virus corona Covid-19, yang bersirkulasi di Indonesia atau kasus transmisi lokal. Tujuannya, mengembangkan kemandirian vaksin sekaligus preventif kasus infeksi di masa depan--paralel dengan pengembangan yang melibatkan transfer teknologi dari luar negeri.

    Baca juga:
    Ketua Tim Uji Klinis: Vaksin Inovac di Indonesia Tunggu Penelitian Selesai!

    Bambang mengungkapkan, paling cepat bibit Vaksin Merah Putih sudah ada yang diserahkan kepada Bio Farma untuk produksi uji klinis pada awal tahun depan. Dan di antara enam itu, dia menyebut Eikjman dan UI yang diperkirakan kini paling maju tahapannya karena sudah akan uji pada hewan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ciri-ciri Berbohong, Perhatikan Bahasa Tubuh Bukan Kata-katanya

    Bahasa tubuh bisa mencerminkan apakah orang tersebut sedang berbohong atau tidak. Berikut ciri-cirinya