Kementerian Ristek Bertekad Kuasai Teknologi Drone, Simak Alasannya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perusahaan Amuse Oneself Inc. memperkenalkan teknologi drone terbaru zUAV multi-rotor UAV. Saat ini drone tidak hanya digunakan sebatas untuk tujuan militer saja, perusahaan kargo internasional telah menggunakan drone sebagai sarana angkut logistik. Chiba, Jepang, 20 Mei 2015. Kiyoshi Ota/Getty Images

    Perusahaan Amuse Oneself Inc. memperkenalkan teknologi drone terbaru zUAV multi-rotor UAV. Saat ini drone tidak hanya digunakan sebatas untuk tujuan militer saja, perusahaan kargo internasional telah menggunakan drone sebagai sarana angkut logistik. Chiba, Jepang, 20 Mei 2015. Kiyoshi Ota/Getty Images

    TEMPO.CO, Bandung - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brojonegoro, mengungkap program drone kargo yang tengah disiapkan di kementeriannya.  Menurutnya, drone akan menjadi tren teknologi masa depan baik militer maupun sipil.

    Untuk sipil, Bambang mencontohkan, drone bisa berperan penting untuk membawa kargo karena kegiatan ekonomi membutuhkan pergerakan barang antar daerah yang semakin tinggi.

    Baca juga:
    Pandemi Covid-19, Menristek: Pesawat N219 dan Drone Tempur Tetap Superprioritas

    "Mudah-mudahan program kargo drone yang segera akan kita luncurkan akan menjadi pelengkap kemampuan kita menguasai teknologi dirgantara,” katanya di sela Aerosummit 2020 yang disiarkan daring, Senin 28 Desember 2020.

    Bukan cuma teknologinya, Bambang juga mengungkap keyakinannya kalau pasar penggunaan drone akan makin berkembang. Dia memprediksi nilainya lebih dari seratus miliar dolar Amerika bertolak dari nilai pasar drone yang disebutnya senlai 13 miliar dolar.  

    Itu sebabnya, Bambang mengatakan, Indonesia harus menguasai teknologi drone. “Arah dan riset inovasi penerbangan dan dirgantara Indonesia tentunya harus kita sesuaikan dengan apa yang menjadi tren dunia dan kebutuhan Indonesia tentunya."

    Khusus untuk industri penerbangan di Indonesia, Bambang menjelaskan, sedang disusun road map lewat pembentukan Komite Kedirgantaraan Indonesia, pengganti Dewan Penerbangan Indonesia (Depanari). Kemenristek juga mengundang peran dari berbagai institusi dan kementerian/lembaga untuk memperkuat komite itu. 

    Prosesi pemberian nama pesawat N219 yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 10 November 2017. TEMPO/Subekti

    Bambang mengatakan, road-map tersebut juga mencakup rencana pengembangan industri pesawat terbang menyusul program pesawat N219 Nurtanio, pesawat perintis hasil pengembangan bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia. Bambang menyebut program pengembangan pesawat N245 (pesawat terbang berkapasitas 45 penumpang) serta pesawat R80 berkapasitas 80 orang.

    Baca juga:
    Menristek: Drone Tempur Elang Hitam Mulai Terbang Januari 2021

    “Mudah-mudahan pelaku industri atau bisnis penerbangan yang hadir pada hari ini bisa membuat rencana jangka panjang bagaimana melengkapi armadanya dengan pesawat-pesawat buatan Indonesia,” kata mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas itu.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H