Mahasiswa UNY Kembangkan Masker Nanofiber Ampas Tebu untuk Saring Abu Vulkanik

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Nanofiber dari ampas tebu yang dikembangkan tim mahasiswa UNY, bisa untuk bahan masker anti-abu vulkanik. (Dok.UNY)

    Nanofiber dari ampas tebu yang dikembangkan tim mahasiswa UNY, bisa untuk bahan masker anti-abu vulkanik. (Dok.UNY)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta mengembangkan masker nanofiber ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah ampas tebu dengan metode enzimatik. Masker nanofiber ini diklaim lebih baik dibandingkan masker N95 dalam mengurangi paparan abu vulkanik.

    "Masker N95 belum efektif menyaring debu vulkanik karena hanya menyaring debu dengan ukuran 300 nm, masih perlu masker dengan ukuran pori kurang dari 300 nm agar lebih efektif," kata Siti Mustika Ayu, mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY, Rabu, 19 Januari 2022.

    Siti dan mahasiswa lainnya, yaitu Inten Widyaningrum, Dayu Arinda, Intan Tri Wahyuni dan Keysa Havida Nugraha mengembangkan masker nanofiber dari ampas tebu tersebut. “Setiap 1 ton tanaman tebu bisa menghasilkan 100 kilogram ampas tebu kering yang mengandung kadar selulosa 40 persen,” katanya.

    Kandungan selulosa dalam ampas tebu itu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan nanofiber. Nanofiber pada prinsipnya dapat dibuat dari selulosa yang berasal dari dinding sel tumbuhan yang diekstraksi menghasilkan serat berukuran nano. 

    “Dalam mengubah selulosa menjadi nano selulosa ini dapat dilakukan menggunakan perlakuan awal dengan alkali, kemudian diikuti dengan hidrolisis enzimatik untuk menghilangkan lignin dan membatasi degradasi karbohidrat dibandingkan dengan metode kimia lainnya,” kata Siti.

    Intan Tri Wahyuni, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi yang juga terlibat dalam kelompok itu, mengatakan masker dari ampas tebu ini relatif ramah lingkungan dibanding masker N95 yang mengandung polimer berbahan plastik.

    "Kandungan polimer masker N95 menyebabkan masker sulit terdegradasi dalam tanah. Penumpukan limbah masker medis berpotensi menjadi sumber mikroplastik baru," kata dia.

    Pengembangan masker nanofiber dari ampas tebu ini seluruhnya dilakukan di Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY serta riset secara mandiri yang dilakukan di Kabupaten Bantul untuk karakterisasi biodegradasi nanofiber.

    Tim ini menyarankan agar pada penelitian selanjutnya dapat melakukan realisasi pengimplementasian nanofiber selulosa ampas tebu sebagai produk masker agar mendapatkan hasil yang maksimal.

    “Diperlukan penelitian lanjutan berupa uji aktivitas antimikroba pada produk nanofiber selulosa ampas tebu agar didapatkan produk masker yang baik," kata dia.

    Baca:
    CDC Sebut Masker Kain Tak Efektif Tangkal Omicron, Rekomendasikan N95

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Mengenal Cacar Monyet atau Monkeypox, Ketahui Penyebaran dan Cara Pencegahannya

    Cacar monyet telah menyebar hingga Singapura, tetangga dekat Indonesia. Simak bagaimana virus cacar itu menular dan ketahui cara pencegahannya.