Meteor Jadi Bahan Pembuat Keris

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • sxc.hu

    sxc.hu

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Banda langit sebesar buah kelapa yang jatuh di Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis sore kemarin masih dalam penelitian para ahli. Kendati dinyatakan tidak mengandung zat berbahaya, misalnya zat beracun atau radioaktif, beberapa referensi menyebutkan meteor yang jatuh ke bumi memiliki komposisi logam, batuan, serta campuran logam dan batuan.


    Kebanyak meteor yang sampai ke permukaan bumi mengandung campuran logam, yakni besi dan variasi nikel yang larut di dalam besi. Ada pula bahan mineral lainnya yang ada pada meteor, misalnya olivin, piroxin, feldspar dan titanium.

    Mineral yang terakhir disebutkan tadi lebih dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat keris karena sifatnya ringan namun sangat kuat. Titanium adalah logam transisi yang ringan, kuat, dan tahan korosi -termasuk tahan terhadap air laut dan chlorine, dengan warna putih-metalik-keperakan. Kekuatan titanium sama dengan baja, namun beratnya hanya 60 persen dari berat baja dan tahan suhu tinggi.

    Keris yang ada pada zaman Mataram atau Majapahit diperkirakan terbuat batu meteorit karena sifatnya sangat keras, kuat, tapi bobotnya ringan. Kesulitan dalam membuat keris dari bahan titanium adalah titik leburnya yang mencapai 60 ribu derajat celcius, jauh dari titik lebur besi, baja atau nikel yang berkisar 10 ribu derajat celcius. Harga keris yang berbahan titanium juga sangat mahal, yakni lebih dari Rp 50 juta.

    Di samping menjadi bahan terbaik pembuat keris, titanium juga digunakan untuk membuat peralatan perang, seperti tank dan bahan pembuat pesawat ruang angkasa. Di bidang kesehatan, titanium juga digunakan untuk bahan implan gigi, penyambung tulang, pengganti tulang tengkorak, dan struktur penahan katup jantung.

    Selain mengandung berbagai mineral, rahasia lainnya yang terdapat dalam bongkahan meteor ditemukan oleh peneliti dari badan antarisa Amerika (NASA). Pada November tahun lalu, NASA menemukan fosil bakteri di batu meteor di Mars yang menandakan adanya kehidupan di planet merah itu. Bentuk fosilnya mirip cacing mikrofosil Mars. Fosil itu terdapat pada meteor yang ditemukan pada 1984 di kawasan Antartika.

    Rini K | Berbagai Sumber


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?