Terungkap, Penyebab Amerika Salah Uji COVID-19 di Awal Pandemi

Reporter

Kapal rumah sakit Angkatan Laut USNS Comfort melintas di dekat patung Liberty saat memasuki New York Harbor di New York City, AS, 30 Maret 2020. Pemerintah Amerika Serikat tidak hanya mempersiapkan USNS Comfort tetapi juga kepal rumah sakit Angkatan Laut USNS Mercy. REUTERS/Mike Segar

TEMPO.CO, Jakarta - Kontaminasi di laboratorium utama milik Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat di Atlanta berada di balik keterlambatan produksi alat uji atau test kit virus corona COVID-19 di negara itu. Liputan investigasi Washington Post yang diterbitkan 18 April 2020 tersebut mengungkapkan kalau fasilitas pembuat alat uji itu menyalahi praktik manufaktur.

“Hasilnya, kontaminasi terjadi di satu dari tiga komponen uji yang digunakan dalam proses deteksi yang sangat sensitif,” kata peneliti atau ahli yang tahu tentang masalah itu.

Permasalahan dengan alat uji cepat dalam mendeteksi penularan COVID-19 di awal terjadinya pandemi pertama kali mengemuka pada akhir Januari 2020 lalu. Saat itu, CDC mengirim sejumlah hasil pemeriksaan sampel ke 26 laboratorium kesehatan publik di Amerika, dan 24 di antaranya menemukan adanya hasil positif COVID-19 yang palsu.

Badan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat menyimpulkan kalau CDC telah menyalahi standar laboratoriumnya sendiri dalam proses produksi, menyebabkan sampel uji terkontaminasi. Sekalipun ditulis Washington Post bahwa segmen yang terkontaminasi tidak kritikal dalam deteksi virus corona, CDC butuh lebih dari sebulan untuk memperbaiki kerja alat uji dan bisa memulai lagi dari awal proses pengujian massal dan deteksi virus..

Saat itu, Amerika sudah semakin terpuruk dengan jumlah kasus infeksi dan kematian dari virus tersebut yang cukup tinggi. Kekacauan proses di laboratorium itu juga menyebabkan kemunduran Amerika dalam pengembangan pemeriksaan sampel dan distribusinya sementara wabah terus meluas ke seluruh Amerika.

Hasilnya kini adalah Amerika menyumbang jumlah kasus infeksi dan kematian dari COVID-19 yang terbesar di dunia. Dari hampir 2,4 juta kasus infeksi global per hari ini, Amerika menyumbang lebih dari 760 ribu. Sedang angka kematiannya, 40 ribu dari total 164 ribu di dunia.

Sejumlah ahli mengatakan kepada Washington Post bahwa kedekatan campuran kimia dan material virus corona sintetik di laboratorium yang sama di mana alat uji sedang dibuat melanggar prosedur yang telah disepakati bersama.

Juru bicara CDC, Benjamin N. Haynes, mengakui telah terjadi kualitas kontrol di bawah standar dalam proses pembuatan alat uji. Namun dia tidak menegaskan adanya kontaminasi. Haynes hanya menyayangkan hal seperti itu bisa terjadi terlebih di situasi pandemi.

"CDC telah menerapkan peningkatan kualitas kontrol untuk mengatasi masalah itu," katanya. 

Washington Post menyatakan yang pertama mendapatkan konfirmasi tentang adanya kontaminasi di laboratorium CDC hingga upaya penanggulangan wabah COVID-19 di negeri itu berantakan. Namun harian Wall Stret Journal telah melaporkan pada Maret adanya email yang mendetilkan bagaimana cerobohnya CDC dalam pengembangan alat uji COVID-19.

Ditulis Wall Street Journal, CDC salah mendeteksi virus corona dalam sampel air di laboratorium. Email mengatakan beberapa laboratorium menemukan, 'reaktivitas sporadis dalam kontrol negatif di satu dari tiga komponen.' Itu berujung kepada CDC harus mengganti alat-alat uji yang sudah dikirim ke laboratorium-laboratorium penguji.

 
 

BUSINESS INSIDER | WASHINGTON POST






AS: Beijing Tolak Telepon Pentagon sebelum Balon Mata-Mata Cina Ditembak Jatuh

1 jam lalu

AS: Beijing Tolak Telepon Pentagon sebelum Balon Mata-Mata Cina Ditembak Jatuh

insiden balon mata-mata Cina telah meningkatkan ketegangan antara Beijing dan Washington hingga Menlu AS Antony Blinken membatalkan perjalanan


Amerika Serikat Bantah Sanksi terhadap Damaskus Halangi Bantuan Gempa Suriah

3 jam lalu

Amerika Serikat Bantah Sanksi terhadap Damaskus Halangi Bantuan Gempa Suriah

Amerika Serikat membantah laporan yang menyebut sanksi terhadap Damaskus menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan untuk gempa Suriah


Beyonce Umumkan Tur Dunia Bawakan Album "Renaissance", Ini Lokasi dan Jadwalnya

16 jam lalu

Beyonce Umumkan Tur Dunia Bawakan Album "Renaissance", Ini Lokasi dan Jadwalnya

Beyonce telah mengumumkan akan melakukan tur dunia untuk mempromosikan album barunya "Renaissance" yakni ke di Eropa dan Amerika Utara.


MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

19 jam lalu

MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

Dirut MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan jumlah pengguna atau ridership pada 24 Maret 2019 - 31 Desember 2022 sebanyak 61.292.496 orang. Rinciannya, pada 2019 dengan target 65.000 penumpang, realisasinya 86.270 penumpang. Pada 2020 dengan target 26.065 penumpang, realisasinya 27.122 penumpang.


Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

21 jam lalu

Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

Kota New York tak lagi mewajibkan warganya untuk mendapatkan vaksin Covid-19.


FBI Tangkap Pemimpin Neo-Nazi, Akan Serang Gardu Listrik

23 jam lalu

FBI Tangkap Pemimpin Neo-Nazi, Akan Serang Gardu Listrik

Seorang pemimpin neo-Nazi dan rekannya merencanakan serangan ke jaringan listrik Baltimore, namun digagalkan oleh FBI dengan bantuan seorang informan


Bantah AS, Burkina Faso Klaim Tidak Utamakan Perusahaan Rusia dalam Tambang Emas

1 hari lalu

Bantah AS, Burkina Faso Klaim Tidak Utamakan Perusahaan Rusia dalam Tambang Emas

Pemerintah Burkina Faso menyatakan pemberian izin pertambangan emas kepada Nordgold bukan karena perusahaan itu berasal dari Rusia


BPS Sebut Kunjungan Wisatawan Asing Melonjak 384 Persen Sepanjang 2022

1 hari lalu

BPS Sebut Kunjungan Wisatawan Asing Melonjak 384 Persen Sepanjang 2022

BPS menyebut jumlah kunjungan wisawatan asing melonjak sebesar 384,12 persen secara yoy dan secara kumulatif meningkat 251,28 persen.


Militer AS Kumpulkan Serpihan Balon Mata-mata China, Republik Nilai Biden Lemah

2 hari lalu

Militer AS Kumpulkan Serpihan Balon Mata-mata China, Republik Nilai Biden Lemah

Militer AS mencari serpihan balon mata-mata China yang ditembak jatuh dalam kisah mata-mata dramatis yang semakin memperkeruh hubungan kedua negara.


19 Tahun Facebook, Begini Mark Zukerberg Mula-mula Rancang Platform Ini

2 hari lalu

19 Tahun Facebook, Begini Mark Zukerberg Mula-mula Rancang Platform Ini

Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg pada 4 Februari 2004. Begini awal mula ia membangun dan kemudian mengembangkan fiturnya.