Setahun Covid-19: Ini Inovasi Ilmuwan Indonesia untuk Tangani Pandemi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Setahun sudah pandemi Covid-19 sejak pertama kali diumumkannya pasien terinfeksi pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020. Hingga Minggu, 28 Februari 2021, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan terdapat 1.334.634 terkonfirmasi positif. Namun, dari angka tersebut 1.142.703 sudah dinyatakan sembuh dan 36.166 meninggal.

    Baca:
    Dokter Paru: Penderita Covid-19 Harus Banyak Minum Air Putih

    Beberapa ilmuwan dari berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi telah mengembangkan produk inovasi untuk menangani infeksi virus yang disebut SARS-CoV-2 itu. Inovasi tersebut berupa produk mulai dari alat tes, robot perawat, hingga vaksin yang dikembangkan secara lokal. 

    Berikut detail inovasi tersebut: 

    1. GeNose 

    GeNose C19 atau Gadjah Mada Electronic Nose Covid-19 merupakan alat yang dikembangkan oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada. Alat ini bekerja berdasarkan embusan napas, dan dianggap cukup efektif dalam mendeteksi pasien yang diduga terinfeksi.

    Cara kerja GeNose C19 adalah mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama napas pasien. Napas  pasien diindra melalui sensor-sensor, kemudian diolah datanya dengan bantuan AI untuk deteksi dan pengambilan keputusan.

    Ketua tim peneliti dan pengembang alat deteksi Covid-19 UGM, GeNose, Kuwat Triyana menyatakan terus bekerja mengembangkan bagian sistem kecerdasan buatan (AI) dari alat itu.  Pengembangan diyakinkannya tidak berhenti meski alat sudah mendapatkan izin edar dan bebas dipasarkan. 

    ”Baik dari sisi AI maupun prosedur operasi standar penggunaan alatnya,” ujar Kuwat dalam forum UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS), Kamis 25 Februari 2021.

    Upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan akurasi GeNose C19 itu salah satunya dengan menambah kemampuan sensitivitas dan spesifisitas alat itu. Kuwat menuturkan para peneliti sedang berfokus pada aspek kontaminasi yang dapat menyebabkan sensitivitas GeNose C19 terganggu.

    Misalnya, karena seseorang yang dites merokok sebelum tes. “Kami mencoba memastikan alat kami setiap saat, juga meningkatkan kecerdasan buatan GeNose C19 dengan memperbarui sampel setiap hari,” kata Kuwat.

    Saat ini, GeNose C19 mulai banyak digunakan di tempat layanan umum seperti stasiun, bandara, termasuk beberapa kantor pemerintahan.

    2. Rapid tes antigen CePAD 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H