Mau Selamatkan Buaya Terjerat Ban di Palu? Izin Kementerian Dulu

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor buaya berada di habitatnya yang dipenuhi sampah plastik di Sungai Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 18 Januari 2020. Kurangnya kesadaran warga serta minimnya pengawasan mengakibatkan sampah plastik menumpuk dan membahayakan ekosistem.  ANTARA/Mohamad Hamzah

    Seekor buaya berada di habitatnya yang dipenuhi sampah plastik di Sungai Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 18 Januari 2020. Kurangnya kesadaran warga serta minimnya pengawasan mengakibatkan sampah plastik menumpuk dan membahayakan ekosistem. ANTARA/Mohamad Hamzah

    TEMPO.CO, Palu - Tim pakar satwa dari Predator Fun Park Jawa Timur menyatakan belum mendapat izin untuk membantu menolong buaya terjerat ban bekas sepeda motor di Sungai Palu, Sulawesi Tengah. Izin harus dikantongi tim asal Kota Batu, Jawa Timur, itu dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  

    "Kami masih menunggu izin dulu," ujar Dwi, satu anggota tim Predator Fun Park itu di Palu, Rabu 12 Februari 2020.

    Dwi menuturkan, mereka datang ke Palu sebagai bentuk kepedulian terhadap buaya tersebut. Ban bekas diberitakan telah menjerat hewan buas itu dan tidak bisa lepas selama kurang lebih empat tahun. 

    "Awalnya, kami lihat di medsos dan media massa," katanya sambil menambahkan, "Waktu pertama mau berangkat tidak ada biaya. Terpaksa kami coba mendekati Pemerintah Kota Batu, alhamdulillah, akhirnya dibantu."

    Seekor buaya liar yang terjerat ban sepeda motor bekas saat muncul ke permukaan sungai di Palu, Sulawesi Tengah, Ahad, 2 Februari 2020. Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah menutup sayembara penyelamatan sang buaya karena sepi peminat. ANTARA/Mohamad Hamzah

    Dwi menerangkan kalau tim sama sekali tak menyadari harus ada izin yang harus dikantongi dari kementerian hanya untuk menolong buaya terjerat ban bekas itu. Izin bahkan harus didapatkan dengan cara sebelumnya presentasi cara penyelamatan yang akan dilakukan. "Sangat ribet sekali dan kami tidak tahu kalau syaratnya serumit itu," katanya. 

    Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah, Hasmuni Hasmar, membenarkan prosedur minta izin ke Kementerian Lingkungan itu. "Semacam persetujuan jangan sampai celaka dia (buaya)," katanya.

    Izin itu seperti yang telah dikantongi dua ahli buaya asal Australia yakni Matthew Nicolas Wright dan Chris Wilson. Keduanya telah diizinkan lewat surat Direktur Keanekaragaman Hayati Nomor S110/KKH/MJ/KSA.2/02/2020 tanggal 10 Februari 2020. Matthews dan Chris segera bergabung dengan tim Satgas penyelamatan buaya yang dibentuk oleh Kementerian Lingkungan terdiri dari BKSDA Sulawesi Tengah, BKSDA Nusa Tenggara Timur,dan  Polair Polda Sulawesi Tengah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.