Gempa Cianjur, 80 Mahasiswa Kedokteran Gigi Unpad Bantu Identifikasi Jenazah Korban

Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban yang tertimbun longsor akibat gempa Cianjur di Kampung Cijedil, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Ahad, 27 November 2022. Hingga hari ini total korban gempa CIanjur menjadi 321 orang meninggal dan 11 orang belum ditemukan. Tempo/Amston Probel

TEMPO.CO, Jakarta - Tim Forensik Odontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG Unpad) turun membantu tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat mengidentifikasi jenazah korban gempa Cianjur. Selama sepekan ini, mereka memeriksa gigi jenazah korban satu per satu agar bisa dikenali dan diserahkan ke keluarga sejak Jumat pekan lalu.

“Kami masih membantu karena belum semua korban ditemukan,” kata Fahmi Oscandar, penanggung jawab Ilmu Forensik Odontologi FKG Unpad, Jumat, 2 Desember 2022.

Setidaknya menurut Fahmi, tim FKG Unpad telah ikut mengidentifikasi 18 jenazah korban gempa Cianjur dari pemeriksaan gigi. Proses identifikasi atau pengenalan jenazah itu berlangsung di Rumah Sakit Umum Daerah Sayang, Cianjur. Dia menjelaskan, ada tiga cara primer identifikasi yaitu dari sidik jari, deoxyribonucleic acid atau DNA, dan gigi. “Kalau primer itu artinya identifikasi absolut yang tidak terbantahkan lagi,” ujarnya.

Selain itu ada sumber sekunder yaitu properti seperti pakaian, jam tangan, atau cincin. Menurut Fahmi, idealnya tiga cara primer dilakukan. Namun dari satu cara primer ditambah beberapa cara sekunder, jenazah korban sudah bisa dikenali. Pada kasus tertentu, sidik jari korban bisa hilang, sementara pemeriksaan DNA memerlukan waktu dan biaya cukup mahal.

Baca juga:Permudah Identifikasi Jenazah, Dosen Unpad Usulkan KTP Warga Disertai Data Gigi

Masalah dari kedua cara primer itu bisa diatasi oleh pemeriksaan gigi. “Bisa ketahuan orangnya siapa, umurnya berapa, rasnya apa, jenis kelaminnya juga,” kata dokter spesialis dan subspesialis Odontologi Forensik Klinik itu.

Fahmi mengatakan, bersama empat dokter pendamping, mereka ikut melibatkan sekitar 80 orang mahasiswa FKG Unpad yang bergantian. Setiap hari ada sekitar 5-10 mahasiswa yang memeriksa. Setiap jenazah minimal diperiksa oleh dua orang, ditambah seorang pencatat data gigi korban. Pencatatannya menggunakan kode yang mengacu pada standar internasional atau Interpol.   

Tim Forensik Odontologi Fakultas Kedokteran Gigi Unpad bekerja sama dengan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat mengidentifikasi jenazah korban gempa Cianjur yang sulit dikenali. (Dok. FKG Unpad)

Cara Pemeriksaan

Langkah pertama pemeriksa yaitu membuka mulut jenazah lalu diperiksa kondisi giginya. Tim pemeriksa mengalami kesulitan ketika kondisi rahang mulut jenazah sudah kaku sehingga sulit dibuka. Pada kondisi seperti itu, diupayakan membuka rahang dengan teknik non-bedah sampai bedah. “Prosedurnya tetap menghormati etik,” kata Fahmi.

Setelah terbuka, temuan karies atau gigi berlubang, misalnya, ditandai dengan kode garis warna hitam dan tambalan gigi diberi warna kuning pada gambar. Adapun keberadaan gigi palsu, menurut Fahmi, biasanya dapat memudahkan proses identifikasi. “Karena keluarganya langsung ingat korban pernah pasang gigi palsu dan posisinya di mana,” ujarnya.

Selain itu, pada korban bencana hampir rata-rata ada gigi asli yang lepas dari gusi atau istilahnya missing post mortem. Kadang gigi itu hanya hilang sementara. Ketika mulut dibuka, gigi yang lepas itu ditemukan di balik lidah atau di tenggorokan. Gigi itu diambil lalu direkonstruksikan lagi atau ditempatkan di posisi semula.

Pemeriksaan visum et repertum itu kata Fahmi, dilakukan tim dengan cara konvensional atau secara langsung dan manual. Sebenarnya ada metode lain yaitu virtual otopsi. Cara itu menggunakan alat pemindai semacam computerized tomography atau CT scan. ”Lalu kita lakukan pembedahan atau otopsi di dalam gambar monitor komputer,” ujarnya.

Teknik, metode, dan ilmu dari cara yang canggih itu dinilainya tidak sulit. Namun alatnya sejauh ini masih terbatas di setiap rumah sakit. Kalau pun ada, baru sebatas digunakan untuk pasien gigi. Jika bisa digunakan, kata Fahmi, proses pemeriksaan bisa berlangsung lebih cepat. Dengan cara lama, pemeriksa pemula membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam, sementara yang telah berpengalaman bisa dalam waktu 10-15 menit.

Data hasil pemeriksaan gigi jenazah kemudian digabungkan dengan cara identifikasi primer lain dan sekunder. Proses yang disebut rekonsiliasi itu kata Fahmi, sepenuhnya ditangani oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) kepolisian. Mereka mencocokkan data ante mortem atau ketika korban masih hidup, dengan data post mortem yang berasal dari tubuh korban. “Jika sama, kita putuskan hasil identifikasi individunya. Selanjutnya kita serahkan ke keluarganya,” ujar Fahmi.  


Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.






Info Gempa Terkini BMKG: Dinihari di Pengalengan, Sore dari Cirata

14 jam lalu

Info Gempa Terkini BMKG: Dinihari di Pengalengan, Sore dari Cirata

Gempa terbaru di Cianjur terjadi Sabtu sore ini, 28 Januari 2023, pukul 17.02 WIB. Bukan gempa susulan.


Polda Jabar Tegaskan Tak Akan Tutupi Pengungkapan Kasus Tabrak Lari Mahasiswi di Cianjur

23 jam lalu

Polda Jabar Tegaskan Tak Akan Tutupi Pengungkapan Kasus Tabrak Lari Mahasiswi di Cianjur

Polda Jabar memastikan tidak akan menutup-tutupi proses dalam pengungkapan kasus dugaan tabrak lari yang mengakibatkan seorang mahasiswi tewas


Wowon Serial Killer Bisa Ubah Rasa Kopi Saset Jadi Asin, Pernah Uji Coba ke Tetangga

1 hari lalu

Wowon Serial Killer Bisa Ubah Rasa Kopi Saset Jadi Asin, Pernah Uji Coba ke Tetangga

Tetangga Wowon Serial Killer itu sempat menyesap kopi saset itu dan benar rasanya asin. Oleh anak tiri Wowon diminta memuntahkan segera. Kenapa?


Mahasiswi Tewas Diduga Tertabrak Iringan Patwal, Bagaimana Respons Jika Bertemu Rombongan Patwal?

1 hari lalu

Mahasiswi Tewas Diduga Tertabrak Iringan Patwal, Bagaimana Respons Jika Bertemu Rombongan Patwal?

Peraturan mengenai Patroli dan Pengawalan (patwal) diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.


Bantah Tabrak Lari Berujung Mahasiswi di Cianjur Tewas, Sopir Audi Ceper Beri Penjelasan

1 hari lalu

Bantah Tabrak Lari Berujung Mahasiswi di Cianjur Tewas, Sopir Audi Ceper Beri Penjelasan

Sugeng Guruh Utama membantah melakukan tabrak lari terhadap Selvi Amalia Nuraeni, 19 tahun, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Suryakancana Cianjur


Tabrak Lari Mahasiswi di Cianjur, Bagaimana Sanksi Pidana Pelaku Tabrak Lari?

1 hari lalu

Tabrak Lari Mahasiswi di Cianjur, Bagaimana Sanksi Pidana Pelaku Tabrak Lari?

Kecelakaan di Cianjur mengakibatkan korban yang merupakan mahasiswi tewas di tempat kejadian. Kini pelaku masih dicari. Ancaman pidana tabrak lari?


Polri Pastikan Tewasnya Mahasiswa Cianjur Bukan karena Konvoi Polisi

2 hari lalu

Polri Pastikan Tewasnya Mahasiswa Cianjur Bukan karena Konvoi Polisi

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan menjelaskan bahwa mobil yang menabrak mahasiswa itu bukan karena konvoi polisi.


Wowon Serial Killer Pernah Tunjukkan Sulap Menggandakan Uang Rp 1.000 jadi 30 Ribu

2 hari lalu

Wowon Serial Killer Pernah Tunjukkan Sulap Menggandakan Uang Rp 1.000 jadi 30 Ribu

Praktek penggandaan uang menjadi salah satu jalan Wowon dan Duloh melakukan pembunuhan berantai. Pernah tunjukkan ke tetangga.


EKBIU, Inovasi Tes Kemampuan Bahasa Indonesia Adaptasi TOEFL Karya Dosen Unpad

2 hari lalu

EKBIU, Inovasi Tes Kemampuan Bahasa Indonesia Adaptasi TOEFL Karya Dosen Unpad

Melalui tes ini, mahasiswa baru Unpad yang lulus tes tidak perlu lagi mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia pada OKK.


Kapolri Janji Pantau Kasus Tabrak Lari Mahasiswi di Cianjur

3 hari lalu

Kapolri Janji Pantau Kasus Tabrak Lari Mahasiswi di Cianjur

Kepala Kepolisian Republik Indonesia atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo diminta turun tangan mengusut kematian Selvi.